- Back to Home »
- Artikel »
- PENDIDIKAN MULTIKULTURAL MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG IDEAL DI TENGAH PLURALISME
Posted by : Unknown
Selasa, 08 Juli 2014
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG IDEAL DI TENGAH PLURALISME
Oleh : Febriant Musyaqori Ramdani_Pendidikan Sosiologi UPI 2013
Komunikasi adalah dimana seseorang atau sekelompok orang menyampaikan suatu pesan tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘komunikasi’ memiliki dua pengertian, yakni : 1 pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; 2 perhubungan;
- dua arah komunikasi yang komunikan dan komunikatornya di satu saat bergantian memberikan informasi;
- formal komunikasi yang memperhitungkan tingkat ketepatan, keringkasan, dan kecepatan komunikasi;
- massa penyebaran informasi yang dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu kepada pendengar atau khalayak yang heterogen serta tersebar di mana-mana;
- sosial komunikasi antarkelompok sosial dalam masyarakat.Sedangkan menurut Wikipedia bahasa Indonesia ensiklopedia bebas Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Dari paparan di atas kita dapat mengetahui apa arti dan definisi dari kata komunikasi itu. Bila kita telaah komunikasi di negara kita belum berjalan dengan ideal, fenomena yang terjadi saat ini sering sekali terjadi konflik akibat salah paham. Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sepertinya dikoyak oleh masyarakat yang tidak paham akan komunikasi dengan orang lain yang beragam latar belakangnya secara utuh, tentu perlu adanya solusi banyak orang berpendapat Negara Indonesia perlu menerapkan Pendidikan Multikultural sejak dini baik dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini hanya segelintir orang yang mengerti dan paham akan Pendidikan Multikultural ini.
Pada dasarnya Pendidikan Multikultural dapat diajarkan dengan cara sederhana. Salah satunya dengan membangun komunikasi dan menghargai individu secara utuh, bukan hanya dari latar belakangnya. Bagaimana cara membangun komunikasi dan menghargai perbedaan itu? Tentunya kita dapat menganalisisnya lebih jauh. Pertama jika kita tinjau dari sejarah Pendidikan Multikultural ini terjadi akibat dari gerakan sosial orang Amerika keturunan Afrika dan kelompok kulit berwarna hitam lain yang mengalami praktik diskriminasi di lembaga-lembaga publik pada masa perjuangan hak asasi manusia pada tahun 1960-an. Di antara lembaga yang secara khusus disorot karena bermusuhan dengan ide persamaan ras pada saat itu adalah pendidikan. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an suara-suara yang menuntut lembaga-lembaga pendidikan agar konsisten dalam menerima dan menghargai perbedaan semakin kencang mereka menuntut adanya persamaan kesempatan di bidang pekerjaan dan pendidikan. Dengan kata lain Pendidikan Multikultural menuntut persamaan dalam segala hal.
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia karena dengan pendidikan manusia membentuk kepribadian yang berkualitas. Pendidikan tidak hanya dapat dilakukan didalam lembaga pendidikan (sekolah) namun pendidikan juga dapat dilakukan di luar sekolah dan tanpa batas waktu atau berlangsung seumur hidup, begitupun dengan Pendidikan Multikultural.
Berbagai masalah yang timbul di negara kita banyak dikarenakan adanya ketidakberagaman budaya yang memang pada dasarnya Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial budaya meliputi ras, suku, agama, status sosial, mata pencaharian, dan lainnya. Dari keberagaman itulah yang akhirnya menimbulkan konflik berkepanjangan dan tidak dapat menemui titik terangnya.
Multikultural berasal dari dua kata yaitu Multi dan Kultur, multi artinya banyak dan kultur artinya budaya. Menurut Gibson (1984) mendefinisikan bahwa pendidikan multikultural adalah suatu proses pendidikan yang membantu individu mengembangkan cara menerima, mengevaluasi, dan masuk kedalam sistem budaya yang berbeda dari yang mereka miliki. Dari definisi diatas kita tinjau kembali apa yang menjadi sumber konflik yang di negara kita. Maka dari itu perlu penerapan pendidikan multikultural secara nyata. Yakni dengan beberapa hal sebagai berikut :
- formal komunikasi yang memperhitungkan tingkat ketepatan, keringkasan, dan kecepatan komunikasi;
- massa penyebaran informasi yang dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu kepada pendengar atau khalayak yang heterogen serta tersebar di mana-mana;
- sosial komunikasi antarkelompok sosial dalam masyarakat.Sedangkan menurut Wikipedia bahasa Indonesia ensiklopedia bebas Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Dari paparan di atas kita dapat mengetahui apa arti dan definisi dari kata komunikasi itu. Bila kita telaah komunikasi di negara kita belum berjalan dengan ideal, fenomena yang terjadi saat ini sering sekali terjadi konflik akibat salah paham. Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sepertinya dikoyak oleh masyarakat yang tidak paham akan komunikasi dengan orang lain yang beragam latar belakangnya secara utuh, tentu perlu adanya solusi banyak orang berpendapat Negara Indonesia perlu menerapkan Pendidikan Multikultural sejak dini baik dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini hanya segelintir orang yang mengerti dan paham akan Pendidikan Multikultural ini.
Pada dasarnya Pendidikan Multikultural dapat diajarkan dengan cara sederhana. Salah satunya dengan membangun komunikasi dan menghargai individu secara utuh, bukan hanya dari latar belakangnya. Bagaimana cara membangun komunikasi dan menghargai perbedaan itu? Tentunya kita dapat menganalisisnya lebih jauh. Pertama jika kita tinjau dari sejarah Pendidikan Multikultural ini terjadi akibat dari gerakan sosial orang Amerika keturunan Afrika dan kelompok kulit berwarna hitam lain yang mengalami praktik diskriminasi di lembaga-lembaga publik pada masa perjuangan hak asasi manusia pada tahun 1960-an. Di antara lembaga yang secara khusus disorot karena bermusuhan dengan ide persamaan ras pada saat itu adalah pendidikan. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an suara-suara yang menuntut lembaga-lembaga pendidikan agar konsisten dalam menerima dan menghargai perbedaan semakin kencang mereka menuntut adanya persamaan kesempatan di bidang pekerjaan dan pendidikan. Dengan kata lain Pendidikan Multikultural menuntut persamaan dalam segala hal.
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia karena dengan pendidikan manusia membentuk kepribadian yang berkualitas. Pendidikan tidak hanya dapat dilakukan didalam lembaga pendidikan (sekolah) namun pendidikan juga dapat dilakukan di luar sekolah dan tanpa batas waktu atau berlangsung seumur hidup, begitupun dengan Pendidikan Multikultural.
Berbagai masalah yang timbul di negara kita banyak dikarenakan adanya ketidakberagaman budaya yang memang pada dasarnya Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial budaya meliputi ras, suku, agama, status sosial, mata pencaharian, dan lainnya. Dari keberagaman itulah yang akhirnya menimbulkan konflik berkepanjangan dan tidak dapat menemui titik terangnya.
Multikultural berasal dari dua kata yaitu Multi dan Kultur, multi artinya banyak dan kultur artinya budaya. Menurut Gibson (1984) mendefinisikan bahwa pendidikan multikultural adalah suatu proses pendidikan yang membantu individu mengembangkan cara menerima, mengevaluasi, dan masuk kedalam sistem budaya yang berbeda dari yang mereka miliki. Dari definisi diatas kita tinjau kembali apa yang menjadi sumber konflik yang di negara kita. Maka dari itu perlu penerapan pendidikan multikultural secara nyata. Yakni dengan beberapa hal sebagai berikut :
- Menyiapkan materi atau kurukulum pelajaran yang mengagungkan perbedaan budaya, dan menghargai kebudayaan suku atau etnis lain.
- Menyiapkan kurikulum atau materi yang tidak diskriminatif dan tidak bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM).
- Menciptakan pendidikan yang berasaskan pengembangan nilai dan moral budaya untuk menanamkan sikap saling menghargai satu sama lain.
- Mengembangkan hukum yang tidak bersifat diskriminatif, penyamaan hak dan kedudukan di dalam masyarakat.
- Menggencarkan pendidikan multikultur yang bersifat saling menghargai perbedaan antar budaya.
- Memupuk esensi dari semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
Agar pendidikan multikultural tidak bebas nilai, maka harus dipandu oleh wahyu. Wahyu inilah sebenarnya yang menjadi kekuatan hakiki dari pendidikan Islam multikultural, sehingga setiap kegiatan multikultural tidak terlepas dari nilai-nilai ketuhanan dan menjadi bukti pengabdian kepada Allah Yang Maha Mendidik. Ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan pendidikan Islam multikultural. Pertama, mendorong manusia yang terlibat dalam dunia pendidikan untuk menjadi figur multikultural dan kedua mendorong kesadaran spiritual dalam setiap kegiatan multikultural. Dengan demikian, penerapan pendidikan multikultural untuk membangun komunikasi yang ideal di tengah pruralisme ini perlu partisipasi atau dukungan dari semua pihak baik pemerintah, golongan agama, kelompok masyarakat dan meluas kepada masyarakat pada umumnya. Dalam penerapannya harus di utamakan dari diri individunya masing-masing, kenapa demikian karena pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda dengan latar belakang yang berbeda pula sudah sewajarnya dituntut untuk menghargai perbedaan.