Popular Post

Posted by : Unknown Sabtu, 02 Agustus 2014


Masih Perlukah Ujian Nasional?

 oleh : Febrriant Musyaqori Ramdani
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk mnjemput masa depan. Pendidikan nasional adalah suatu sistem pendidikan yang berdiri diatas landasan dan dijiwai oleh filsafah hidup suatu bangsa dan tujuanya bersifat mengabdi kepada kepentingan dan cita-cita nasional bangsa. Pendidikan nasional adalah suatu usaha untuk membimbing para warga Negara Indonesia menjadi pancasila, yang berpribadi, berdasarkan akan kebutuhan berkesadaran akan kebutuhan berkesadaran masyarakat dan mampu membudayakan alam sekitar. Landasan-landasan pendidikan tersebut adalah filosofis, kultural, psikologis, serta ilmiah dan teknologi.
Di dalam pembukaan undang-undang dasar tahun 1945 disebutkan bahwa tujuan nasional Indonesia adalah “……mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…”. Tentu cita-cita
ini harus dicapai dengan penuh semangat dan sungguh-sungguh. Pemerintah sendiri telah berusaha dengan menyisihkan 20% dari Anggaran Pengeluaran Belanja Negara (APBN) untuk meningkatkan taraf pendidikan di seluruh pelosok tanah air. Dengan anggaran sebanyak itu, sedikit banyak pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan dan kemajuan misalnya dahulu hampir 70% penduduk Indonesia mengalami buta huruf tak bisa membaca namun dengan adanya pendidikan gratis kini jumlah itu berkurang. Namun sayangnya tidak semua sekolah menerima dana yang layak dari APBN tersebut. Banyak sekali sekolah-sekolah yang sarana dan prasarana nya tidak memenuhi standar operasional minimum, akibatnya siswa-siswanya sedikit tertinggal dibanding dengan siswa-siswa yang memperoleh sarana dan prasarana yang lebih baik.
Pemerintah pun sudah lama mengadakan evaluasi pendidikan dengan diadakannya ujian nasional (UN). Banyak sekali pro dan kontra dari program pemerintah ini, pasalnya siswa lama bersekolah hanya ditentukan oleh tiga atau empat hari kelulusannya. Belum lagi di pelosok di daerah terpencil yang sarana dan prasarana kurang memadai ini banyak mempengaruhi kelulusan siswanya karena soalnya sama dengan mereka yang memiliki sarana dan prasarananya lebih memadai. Banyak sekali masalah yang timbul akibat dari penyelanggaraan UN ini.
Guru-guru dan kepala sekolah yang ketakutan siswanya tidak lulus UN melakukan berbagai cara, mulai dari cara yang benar dan cara yang salah. Mulai dari memberikan bimbingan intensif kepada siswa-siswanya, mengadakan do’a bersama sebelum melakasanakan UN, dan sebagainya. Cara curang pun dilakukan karena bagi mereka kelulusan siswanya yang paling utama. Mereka dengan sistematisnya memberikan kunci jawaban kepada siswanya, padahal mereka berstatus sebaga guru, guru yang harus mencerminkan perbuatan baik bagi siswanya kini telah kehilangan wibawanya. Mereka berdalih karena hampir semua sekolah melakukan ini.
Pada tahun-tahun berikutnya pemerintah merubah soal UN dengan paket-paket tertentu. Pertama dibagi lima paket namun isinya sama hanya nomor soalnya saja yang berbeda ini masih bisa disiasati, selanjutnya pemerintah membagi soal UN dengan 20 paket dan keputusan ini membuat tegang di kalangan siswa dan guru-gurunya. Namun pada kenyataan nya masih ada kecurangan. Setelah itu pemerintah mengubah perhitungan kelulusan dari 100% UN kini hanya 40% dari UN dan 60% diserahkan ke sekolah mungkin karena banyak yang kontra dengan UN ini. Namun tetap saja banyak kecurangan yang massif dilakukan oleh seluruh civitas pendidikan.
UN tahun 2013 mengalami banyak kemunduran mulai dari kertas lembar jawaban komputer yang tipis, dan soal-soal yang kurang jelas, juga terjadi keterlambatan suplay logistic UN ke pelosok tanah air, ada Sebelas provinsi di kawasan Indonesia Tengah itu antara lain Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat. Dengan berbagai masalah yang timbul masih perlukah UN?

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Yan_Mu_Ra - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -