- Back to Home »
- Artikel »
- Indahnya Persaudaraan
Posted by : Unknown
Minggu, 28 September 2014
Hendaknya
kita melihat hal-hal yang dicontohkan oleh Rasulullah. Seperti pada saat beliau
mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau membangun lima azas, yaitu :
Pertama
adalah Al-Ikha (persaudaraan). Rasulullah saw menegakkan masyarakat Islam atas
dasar persaudaraan yang kokoh dan kuat. Karenanya kaum muslimin itu bersaudara.
Dalam
Islam, persaudaraan tidak mengenal batas-batas teritorial, geografis, suku,
etnis, ras, maupun warna kulit.
Ppersaudaraan dalam Islam senantiasa mengikat dan mempersatukan tujuan
serta memperkuat barisan, mengajak kepada kerjasama, gotong royong, bahu
membahu atas dasar kebaikan dan kasih sayang.
Kedua,
Al-Musaawaah (persamaan derajat). Rasul Saw menegakkan masyarakat di atas
kaidah persamaan yang sempurna antar umat manusia, bukan hanya di antara umat
Islam, tapi juga di antara elemen masyarakat di luar komunitas Islam. Tidak ada
kelebihan antara seseorang dengan lainnya, tidak ada kelebihan dan keistimewaan
antara si kulit putih dengan si kulit hitam, tidak ada kelebihan antara orang
arab dengan bukan arab.
Ketiga,
Al-Ta`aawun (Saling tolong-menolong). Rasulullah Saw mengetengahkan asas
kehidupan masyarakat setelah hijrah atas sikap tolong-menolog. Tolong menolong
tersebut untuk kebaikan dan keutamaan, menjauhi hal yang haram, membasmi
kemunkaran yang bercokol, dan mengenyahkan kebatilan serta kemusyrikan, menjaga
bangunan tubuh masyarakat Islam dari penyakit-penyakit masyarakat yang bisa
membawa pada kehancuran dan bercerai-berai.
Keempat,
Al-Tasamuh (toleransi). Masyarakat Islam ditegakkan atas dasar toleransi dalam
makna dan cakupan yang luas. Islam menetapkan toleransi dan penghormatan
terhadap keyakinan dan kepercayaan umat lain, serta tidak seorang pun yang
dapat memaksakan kepercayaan dan agama Islam pada orang lain selaras dengan
firman Allah:
Salah
satu fenomena yang cukup menghebohkan dunia Islam saat ini adalah adanya
sekelompok umat yang aktif mengkafirkan kelompok lainnya. Mereka memandang
bahwa orang-orang yang ada di luar kelompoknya, sebagai kafir, murtad, dan
keluar dari Islam.
Setiap
kali berbeda pendapat dengan orang lain, mereka dengan mudah menyerang lawan
bicaranya itu dengan julukan kafir. Seolah-olah di dunia ini hanya dirinya saja
yang berhak menganut agama Islam, sedangkan orang lain sangat rentan untuk
menjadi kafir.
Maka
dengan semangat hijrah, kita dididik untuk menjadi umat yang toleran dalam
perbedaan pendapat dan pandangan, tidak mudah menjatuhkan vonis kafir, bid`ah,
dan syirik kepada pihak lain sesama umat Islam.
Kelima,
Al-A`dalah (keadilan). Rasulullah saw menegakkan masyarakat Islami atas dasar
keadilan yang luas, baik terhadap kawan maupun lawan, keadilan yang tidak
pandang bulu, pangkat dan kedudukan.
Keadilan
yang dibangun oleh Rasul adalah keadilan yang memberikan hak sesuai porsinya;
keadilan yang memandang kaum lemah itu kuat karena ada hak yang harus diterimanya
dan memandang orang-orang kuat yang merampas dan menginjak-injak haknya orang
lain itu lemah. Suara keadilan telah digemakan oleh Allah:
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An-Nahl:
90)
Dengan
kekuatan asas yang dipancangkan oleh Rasulullah, lengkaplah unsur-unsur yang
diperlukan bagi terbentuknya masyarakat yang beriman, bertakwa, bertauhid, yang
berdiri gagah di atas puing-puing reruntuhan Jahiliyah. Masyarakat yang sanggup
menghadapi gelombang-gelombang zaman dalam sejarah umat manusia. Masyarakat itu
telah tiada, namun misi kebenaran Allah, Islam, dan tugas sejarah yang pernah
diembannya tak pernah hilang.
Yang
pasti adalah masa kehidupan umat manusia akan cerah ceria bila kemunkaran dan
kebatilan telah sirna. “Dan katakanlah bila kebenaran telah datang dan yang
batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap.” (Qs. Al-Isra: 81)
Inilah
beberapa azas yang dibangun oleh Rasulullah dan sangat patut kita contoh agar
terciptanya kehidupan yang aman dan rukun. Bagi mereka yang selalu menyambung
silaturrahmi akan dipanjangkan usianya. Adalah sangat logis memerlukan
pemahaman dan persepsi yang berbeda. Benar bahwa umur manusia telah dibatasi
oleh Allah, dana tidak ada seorang pun yang mampu mengubah kehendak Allah. Akan
tetapi dengan banyaknya silaturrahmi, maka perbuatan baik kepada sesama yang
akan mendatangkan pahala, tentunya akan terus terjalin.
Dengan upaya membangun persaudaraan
atau silaturrahmi, maka akan menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama serta
menumbuhkan gairah hidup tersendiri. Sehingga, apabila terjadi problem-problem
tertentu, dengan banyaknya pikiran dan tenaga yang disatukan, tentu segala
problematika dengan mudah akan terselesaikan.