Popular Post

Posted by : Unknown Kamis, 03 April 2014



Untukmu Ibu
*)
            “Bu.. lapar, kakak ingin makan.” Rengek Rina. “Sabar dulu sayang, ibu mau nyari dulu uangnya buat kita makan sabar ya sayang.” Ibunya menjawab dengan suara lirih. Tak lama kemudian datanglah adik Rina yaitu Raka,  ia baru pulang dari  sekolahnya  “Bu... Ibu... ade lapar bu dari kemarin ade belum makan, ade ingin makan buuu.” Dengan suara yang begitu lirih ibunya menenangkan kedua anaknya yang sedari kemarin belum makan apapun hanya minum air, itupun air yang dimasak dengan menggunakan  tungku  kayu bakar. Begitulah  keseharian keluarga ibu Tuti seorang janda tua yang ditinggal suaminya karena kecelakaan.
            Ibu Tuti adalah seorang janda tua yang tinggal di gubuk reyot hasil swadaya dari masyarakat yang merasa iba dengan nya, gubuk itu terletak di kaki gunung burangrang di salah satu Desa di Kabupaten Bandung Barat. Sehari-hari beliau bekerja serabutan, kadang beliau bekerja sebagai pembantu rumah tangga, buruh kebun, kuli, dan pekerjaan yang lainnya yang seukuran dengan pendidikannya yaitu tamat SD. Beliau amat gigih bekerja demi anak-anaknya tetap makan dan bersekolah setinggi-tingginya, karena bagi beliau pendidikan adalah yang paling utama. Beliau berpikir bahwa dengan pendidikan yang tinggi
anak-anaknya tidak akan merasakan apa yang beliau rasakan saat ini. Hal tersebut terbukti hingga saat ini anak-anaknya tetap bersekolah, Rina anaknya yang paling tua sekarang telah berhasil kuliah di Universitas yang mencetak guru-guru di Bandung karena Rina mendapat beasiswa full sampai ia sarjana. Rina adalah seorang anak yang rajin dalam membantu ibunya dan sangat tekun dalam belajar, tak ayal ia selalu juara kelas sewaktu SD, SMP, dan SMA nya. Adiknya Raka sama seperti Rina ia selalu rajin dan bersungguh-sungguh dalam belajar, ia pun selalu juara di kelasnya. Raka yang baru kelas dua SMA di Sekolah Swasta yang ada di desa nya harus menanggung beban hidup keluarganya karena ia anak laki-laki satu-satunya di keluarga tersebut, tak ayal sepulang sekolah ia selalu menyempatkan diri untuk bekerja kuli sebagai tukang cangkul kebun milik oranglain hasil dari pekerjaan tersebut ia serahkan kepada ibunya.
**)      
            Hari itu matahari sangat terik sekali, ibu Tuti sedang bekerja memetik tomat milik bosnya. “aduh panas sekali hari ini..” kata bu Tuti. “iya, bu gak seperti biasanya ya, bu.” Sahut bu Kokom rekan kerjanya. “sebaiknya kita beristirahat dulu bu..” saran ibu-ibu yang lainnya. “iya, bu lagian masih banyak waktu kok.” Sahut bu Kokom kembali. “jangan, nanti kita diomeli bos lagian ini kan sedikit lagi pekerjaannya.” Jawab bu Tuti. “mmm, ya baiklah kita lanjutkan. Akan lebih baik jika kita selesaikan dulu.” Kata bu Kokom. Ibu Tuti sangatlah tekun dalam menjaga amanah nya. Tak lama kemudian pekerjaan pun selesai. Bu Tuti mendapat upah dari hasil kerjanya dari jam tujuh pagi hingga jam dua belas siang hanya sebesar Rp. 20.000,- ini hanya mencukupi untuk makan anak-anaknya sehari. Tapi tak mengapa ia selalu bersyukur dengan keadaan ini.
***)
            Sesampainya di rumah ibu dua orang anak ini langsung bergegas pergi ke warung untuk membeli beras beserta lauknya untuk makan kedua anaknya. Sejam kemudian makanan pun telah matang dan siap untuk di santap, namun anak-anaknya belum juga pulang. Bu Tuti pun menunggunya walau perutnya sudah keroncongan, tapi demi anak-anaknya apa sih yang tidak mampu ia lakukan. Selang beberapa waktu kemudia Rina pun datang.
            “Assalamualaikum.. bu.. ibu.. aku pulang.” Teriak Rina dari balik daun pintu yang sudah lapuk itu. “iya nak.. waailaikum salam, sinilah nak.. ibu sudah siapkan makanan buat kamu.” Ibunya menjawab. Rina pun menghampiri Ibunya yang duduk di atas tikar yang sudah lapuk dimakan usia dan mencium tangannya. “Ibu kenapa ibu gak duluan makan? Setelah seharian bekerja Ibu pasti lapar kan?” kata Rina. “ibu gak mau makan sendirian, ibu ingin kita makan bersama.” Ibunya menjawab. “ya, sudah Rina mau ganti baju dulu ya, bu.” Rina pun pergi ke kamar untuk ganti baju. Ketika Rina selesai ganti baju datanglah adiknya Raka. “Assalamualaikum.. bu, ade pulang buu..” Rina dan Ibunya menjawab “Waalaikumsalam..”. Ibunya memanggil Raka untuk makan “sinilah nak.. ibu sudah siapkan makanan untuk kalian, ayolah sini.” Raka pun menghampiri ibunya dan mencium tangannya. “Raka ganti baju dulu ya, bu..” Raka pun begegas masuk ke kamar untuk mengganti bajunya. Selesai ganti baju Raka langsung menuju tempat duduk ibu dan kakak nya lalu merekapun makan bersama. “Makanlah yang banyak ya, nak.” Ucap ibu tua itu yang sudah suntuk itu. “ibu gak makan? Ayolah bu kita makan bersama.” Kata Raka. “iya bu, kakak gak mau makan kalau ibu gak makan. Pasti ibu lapar kan setelah seharian bekerja.” Kata gadis yang tengah berkuliah semester awal di perguruan tinggi di Bandung. “baiklah nak, ayo kita makan bersama”. sambil tersenyum ibu tua itu menjawabnya. Hari itu pun berlalu.
****)
Keesokan harinya adik dan kakak itu tengah siap-siap berangkat menuju sekolah dan kampusnya, sementara ibu nya sibuk mempersiapkan dua potong singkong yang direbusnya untuk sarapan anak-anaknya. “nak ayo makanlah singkong ini untuk mengganjal perut kalian supaya kalian tidak jajan.” Kata ibu yang sudah suntuk itu. “iya bu, ibu juga ya.” Jawab kedua anaknya. Merekapun makan. “maaf ya, nak ibu gak bisa ngasih kalian bekal ibu gak punya uang.” Ucap ibu yang sudah suntuk itu. “gak apa-apa kok bu, kita gak bekal juga asalkan kita tetap bersama.” Sambil menangis dan memeluk ibu nya gadis itu berkata. Raka pun langsung menghampiri dan memeluk keduanya. “sudah jam enam, ayo kalian berangkat nanti kesiangan loh.” Ibunya mengingatkan. “iya bu, kami berangkat dulu ya, bu. Ibu hati-hati di rumah ya, bu.” Kata gadis itu seraya memeluk dan mencium tangan ibu nya. Mereka berdua pun berangkat. Setelah kedua anaknya berangkat ibu yang sudah suntuk itu berangkat menuju ladang untuk bekerja memetik tomat.
            Begitulah keseharian keluarga bu Tuti yang penuh dengan kesedihan namun, kesediahan itu tak menjadikan mereka untuk kufur nikmat. Mereka percaya dimana ada kesulitan pasti ada jalan. Bahkan Allah SWT memotivasi dua kali dalam ayat nya fainna ma’al ‘usriyuron, inna ma’al ‘usriyusron. Mereka yakin bahwa akan ada kebahagiaan untuk mereka suatu saat nanti.
*****)
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu Raka telah lulus SMA namun Raka bingung harus bagaimana tetapi Raka ingin sekali kuliah seperti kakaknya yang kini tengah mengenyam pendidikan di universitas negeri yang mencetak guru-guru profesional di Bandung. Suatu hari datanglah guru BK Raka ke rumah Raka. “Assalamu’alaikum..” ibu yang sudah suntuk itu menjawab “Waalaikum salam. Eh pak silahkan masuk, mari pak duduk. Raka.. Raka.. nih ada bapak guru tolong ambilkan air minum.” Teriak ibu yang sudah suntuk itu. “iya bu, sebentar.” Raka pun bergegas ke dapur untuk mengambil air minum untuk guru nya dan langsung menyajikannya ke meja tamu. “maaf pak, jamuan nya kurang beginilah keadaan keluarga kami.” Ucap ibu yang sudah suntuk itu sedikit malu. “tidak apa-apa bu, terima kasih. Maksud kedatangan saya kesini ingin memberitahukan bahwa anak ibu, Raka menjadi salah satu siswa di sekolah kami yang kami rekomendasikan untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah langsung.” “beneran pak? Alhamdulillahirobil alamiin”. Ibu yang sudah suntuk itu mengucap syukur dan tak kuasa menahan air mata nya karena bahagia bahwa anaknya memiliki kesempatan untuk kuliah. “iya bu semua itu benar, memang semangat yang tinggi berada pada diri Raka, namun terkendala dengan biaya tapi syukurlah bila memang Raka berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa itu”. “Terimakasih banyak pak.” Ujar ibu yang sudah renta itu. “justru kami yang berterimakasih kepada ibu karena ibu, Raka menjadi bersemangat.” Timbal guru BK Raka. “iya, terimakasih banyak pak.” Ibu yang sudah renta itu mengucapkan kembali kata-kata itu. “iya, bu semoga Raka lolos seleksi dan mendapatkan beasisiwa itu. Aamiin. Baiklah bu saya mohon izin untuk pulang. Terimakasih bu.” “oh, iya silahkan pak terimakasih banyak.” Ibu yang sudah suntuk itu mengantarkannya kedepan pintu. “Assalamualaikum bu sambil melambaikan tangan dan tersenyum simpul.” “waalaikumsalam.” Jawab ibu yang sudah suntuk itu dan membalas lambaian tangan dan senyuman guru BK tersbut. “Raka.. sini nak, kemari ibu mau bicara.” Sedikit berteriak memanggil Raka, Raka pun menghampiri Ibunya. “iya bu ada apa?” “tadi pak guru bilang ke ibu bahwa kamu menjadi salah satu siswa yang direkomendasikan untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah langsung untuk berkuliah di perguruan tinggi negeri. Bagaimana menurutmu nak?” “alhamdulillah bu, Raka ingin sekali kuliah bu. Tapi bagaimana caranya bu?” “katanya kamu besok datang aja ke sekolah untuk mengisi formulirnya.” “baiklah bu.” Seraya memeluk ibunya
******) Esok hari nya. “bu.. Raka ke sekolah dulu ya bu?” “iya nak, hati-hati dijalannya ya.” “iya bu, Assalamualaikum.” Raka bergegas pergi ke Sekolahnya dan tak lupa mencium tangan ibu nya. Sementara itu Rina telah berangkat terlebih dahulu karena ada kuliah pagi. Ibunya pun bersiap seperti biasa untuk bekerja di ladang milik orang.
            Siang hari itu, Raka telah pulang lebih dulu dari ibu dan kakanya. Kemudian disusul oleh Ibunya yang pulang dari ladang orang dan selang beberapa saat datanglah Rina dengan membawa satu buah kantong kresek yang di dalamnya berisi makanan. “Assalamualaikum, bu.. bu.. aku pulang. Nih bu ada makanan untuk kita makan hari ini, Rina dapet dari temen bu.” Ujar Rina yang baru pulang dari kuliah nya. “Waalaikumsalam, iya nak sebentar ibu mau Shalat dulu.” Jawab ibu yang sudah suntuk itu. “iya bu Rina tunggu di meja makan ya bu, Rina udah shalat tadi di jalan.” Ujar Rina. Beberapa saat kemudian ibunya pun selesai shalat dan bergegas menuju ke meja makan. “wah, banyak sekali makanannya.” Ujar ibu nya. “iya bu ini tadi dikasih sama temen Rina karena Rina ulang tahun.” “oh, ya ibu hampir lupa. Selamat ulangtahun ya nak, semoga menjadi orang yang berguna dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.” “aamiin, makasih bu. Ayo kita makan, Raka mana bu? Raka.. Raka..” “iya kak, ada apa?” sahut Raka. “sini kita makan, kakak bawa makanan banyak loh. Cepat kemari.” “iya kak.” Raka pun bergegas menuju ke meja makan. Merekapun makan bersama, betapa indahnya kebersamaan mereka semua beban terasa ringan bila dilewati dengan bersama. Bersama Allah juga tentunya.
            Selesai makan mereka saling bersenda gurau. “bu, Rina masuk kamar dulu ya bu mau ngerjain tugas.” “Iya nak, belajar yang tekun ya nak.” Rina pun masuk ke kamar nya. “bu, Raka juga mau belajar, besok kan Raka mau tes masuk perguruan tinggi. Kalau Raka lolos otomatis bu Raka mendapat beasiswa itu bu.” “iya nak, semangat yah kamu pasti bisa. Ibu juga mau istirahat.” Raka pun langsung menuju meja belajarnya, dan ibu nya berbaring di sebuah kasur yang sudah usang di penjuru rumahnya. Hari itu pun berlalu dengan kesenangan dan senyum bahagia.
*******)
Pagi hari itu serasa sibuk sekali. Raka yang akan menjalani tes memohon do’a restu dari ibu nya sementara Rina berpamitan seperti biasa untuk kuliah. “bu, do’ain Raka ya bu semoga Raka bisa dan dengan mudah mengerjakan soal tes nanti ya, bu?” “iya nak, hati-hati dijalan. Ibu do’akan kamu semoga kamu lolos. Aamiin.” “Aamiin makasih bu, Raka berangkat sekarang ya bu. Assalamualaikum.” mencium tangan ibunya. “Waalaikum salam.” Sahut ibunya. “bu Rina juga berangkat ya bu hari ini ada Ujian akhir semester do’akan juga ya bu.” Iya nak, semoga kamu dipermudah segala-galanya aamiin.” “ya udah Rina berangkat ya bu Assalamualaikum.” mencium tangan ibunya.. “Waalaikumsalam, hati-hati ya nak.”  Ibunya pun seperti biasa bersiap untuk bekerja di ladang milik orang.
********)
            Hari itu pun berlalu dengan begitu saja. Tiga hari kemudian Raka mendapat berita gembira sekali karena ia lolos dalam tes yang dijalaninya dan ia harus segera bersiap menjalani harinya sebagai mahasiswa di universitas yang ia idamkan. “bu.. ibu.. Raka lolos bu.. Raka lolos.” “syukur Alhamdulillah kalau begitu ibu ikut senang.” sambil batuk-batuk dan batuk nya keluar darah. “bu, ibu kenapa? Ibu sakit ayo kita ke puskesmas bu.” “Jangan nak, ibu gak apa-apa kok. Kan kita gak ada uang.” “Raka ada kok bu, tadi Raka abis kerja di kantin sekolah. Ayo bu kita ke puskesmas.” “ya udah, tapi jangan sampai dirawat ya nak.”  “iya, bu insya Allah.” Mereka pun berangkat menuju puskesmas.
*********)
            Esok harinya. Raka harus menjalani aktivitas baru nya sebagai mahasiswa dan harus meninggalkan ibu nya yang sedang sakit. Sementara kakak nya Rina kebetulan hari itu sedang libur pasca ujian akhir semesternya. “bu.. Raka berangkat dulu ya bu, ibu cepet sembuh ya. Assalamualaikum.” Sambil mencium tangannya. “iya nak, hati-hati dijalan. Waalaikumsalam.” Sambil terbatuk-batuk ibu nya menjawab. “Rina.. Rina, kemari nak, ambilkan ibu minum ibu haus.” Rina pun bergegas mengambi minum untuk ibu nya. “iya bu, ini minum nya. Hati-hati bu.” Sambil membantu ibunya minum). “makasih ya nak.” “iya bu, sebaiknya ibu beristirahat udah minum obatnya kan bu?” “iya nak, ibu mau istrahat. Ibu ngatuk.” Rina pun menyelimuti ibunya yang sedang sakit itu.
**********)
            Dua hari kemudian Ibu Tuti pun sembuh seperti biasa, namun batuknya masih merajalela. “Ibu sebaiknya ibu beristrahat dulu. Jangan dulu kerja ya bu, biar Rina saja yang menggantikan ibu bekerja di ladang orang.” “baiklah nak. Ibu menurut saja apa kata mu.” Rina pun pergi meninggalkan ibu nya untuk bekerja di ladang orang. Namun petaka terjadi saat Rina di ladang dan adiknya kuliah. Ibu nya yang sedari pagi terkapar lemas di kasurnya bermaksud untuk ke kamar mandi terjatuh di tengah Rumah dan tak ada yang mengetahui seorang pun. Beberapa saat kemudian datanglah Raka, yang pulang lebih awal dari biasanya. “Assalamualaikum, ibu.. ibu..kok gak nyahut sih?” Raka pun mencari ibunya dan ternyata ibunya sudah tergelatak di tengah rumah. “Astagfirullohaladzim bu, ibu gak kenapa-kenapa?” sambil berusaha membantu ibunya berdiri). “gak nak, tadi ibu mau ke kamar mandi tapi ibu lemas dan jatuh disitu.” “ibu lain kali jangan sendirian ya bu. Kakak mana bu?” “kakakmu lagi di ladang menggantikan ibu bekerja.” “oh, kenapa harus bekerja kan kakak harus jaga ibu.” “gak apa-apa nak kan ibu yang nyuruh.”
            Berbulan-bulan berlalu penyakit ibu Tuti tetap saja tak mau pergi. Namun bu Tuti tak mau merepotkan kedua anaknya dan berusaha untuk terlihat sehat. Sampai pada suatu ketika hari itu bu Tuti pulang dari ladang orang, kepalanya pusing dan badannya lemas, belaiu pun langsung beristirahat seperti biasanya. Namun apa yang terjadi sakit bu Tuti makin menjadi. “Bu, sebaiknya ibu dirawat di Rumah Sakit ya bu.” Raka mencoba meyakinkan ibu nya. “iya bu masalah uang tenang aja, Rina mau jual laptop Rina asalkan ibu sembuh Rina kan bisa pake laptopnya Raka.” “Jangan Rina ibu gak apa-apa kok.” Berusaha menolak. “atuh bu jangan nolak. Ini demi kesembuhan ibu.” Ujar Rina. “ya udah, ibu mau. Tapi...” “ssst.. udah bu, jangan mikirin apa-apa.” Kata Raka. Merekapun bersama-sama berangkat ke rumah sakit terdekat.
**********)
            Di Rumah Sakit “bagaimana dok, ibu saya bisa disembuhkan?” tanya Rina pada dokter yang memeriksa ibunya. “maaf, mbak.. ibu mbak tidak bisa di obati, ibu mbak mengidap penyakit TBC kronis dan juga lambungnya mengalami magh kronis. Menurut medis hanya menghitung hari usia nya tak kan lama lagi.” “Ibu..Ibu..” mata dua orang anak itu berlinang tak kuasa menahan air matanya, keduanya memanggil ibunya sambil menangis Kedua anak itu pun berusaha membahagiakan ibunya di sisa usia nya.
**********)
Waktu pun begitu cepat berlalu. Hari itu Rina dan Raka mendapat kabar bahwa ibunya mengalami koma. Keduanya pun meminta izin pada pihak kampus untuk cuti sementara. “Ibu, Ibu.. jangan tinggalkan kita bu.” sambil menciumi tangan ibunya dan terus menangis. “Ibu harus kuat bu, ibu pasti bisa.” berusaha menghibur. Namun apa yang terjadi beberapa menit kemudian monitor yang ada di ruangan itu telah menunjukkan bahwa ibunya telah meninggal dunia. “ibu.. ibu..ibu... jangan tinggalin kita bu. Kita janji kita akan jadi orang yang berguna seperti yang ibu katakan dulu.” Keduanya menangis sejadi-jadinya. Namun, dengan tegar dan tabahnya akhirnya mereka menerima semuanya.
************)
            Berbulan-bulan berlalu. Rina pun telah menyelesaikan kuliahnya dan diwisuda sebagai sarjana terbaik di kampusnya dengan nilai yang cumlaud dan langsung bekerja di salah satu Sekolah Menengah Atas di Bandung. Sementara Raka adiknya masih menjalani studinya ia sekarang sedang menjalani semester akhir. Sebulan kemudian ia pun telah lulus dengan gelar sarjana terbaik pula dan langsung bekerja di salah satu peusahaan penerbangan di Jakarta sebagai Direktur. Keduanya memenuhi pesan ibunya bahwa mereka harus  menjadi manusia yang berguna.
Sekian.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Yan_Mu_Ra - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -