- Back to Home »
- Artikel »
- Contoh Naskah Pidato Maulid Nabi
Posted by : Unknown
Sabtu, 11 Februari 2012
Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw
Assalamu Alaikum wr.Wb
Tiada kata yang pantas untuk diucapkan kecuali memanjatkan puji
syukur kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan segala rohmat, taufiq, dan hidayahnya kepada kita
sekalian. Sehingga kita masih dapat menikmati anugrah
terindahnya berupa kesehatan serta oksigen
yang kita hirup tanpa harus membayar sepeserpun.
Solawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada
junjungan Nabi
besar kita Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari jalan
yang gelap gulita menuju jalan
yang terang benderang
Bapak-bapak, Ibu-ibu, para hadirin yang saya hormati.
Tanggal 12 Rabiul Awal 1431 H, bertepatan pada tanggal … seluruh
kaum muslim merayakan maulid Nabi Muhammad
SAW, tidak lain merupakan warisan peradaban Islam yang dilakukan secara turun temurun.
Dalam catatan historis, Maulid dimulai sejak zaman kekhalifahan
Fatimiyah di bawah pimpinan
keturunan dari Fatimah az-Zahrah, putri Muhammad. Perayaan ini
dilaksanakan atas usulan panglima perang, Shalahuddin
al-Ayyubi (1137M-1193 M), kepada khalifah
agar mengadakan peringatan hari kelahiran Muhammad. Tujuannya adalah untuk mengembalikan semangat juang kaum muslimin
dalam perjuangan
membebaskan Masjid al-Aqsha di Palestina dari cengkraman kaum Salibis.
Yang kemudian, menghasilkan efek besar berupa semangat
jihad umat Islam menggelora pada
saat itu.
Secara subtansial, perayaan Maulid Nabi adalah sebagai bentuk
upaya untuk mengena akan keteladanan Muhammad sebagai pembawa ajaran agama
Islam. Tercatat dalam sepanjang sejarah
kehidupan, bahwa nabi Muhammad adalah pemimipn besar yang
sangat luar biasa dalam memberikan teladan agung bagi
umatnya.
Dalam konteks ini, Maulid harus diartikulasikan sebagai salah satu
upaya transformasi diri atas
kesalehan umat. Yakni, sebagai semangat baru untuk membangun nilai-nilai
profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society)
yang merupakan bagian dari demokrasi
seperti toleransi, transparansi, anti kekerasan, kesetaraan gender, cinta
lingkungan, pluralisme, keadilan sosial, ruang bebas
partisipasi, dan humanisme. Dalam tatanan
sejarah sosio antropologis Islam, Muhammad dapat dilihat dan
dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling
melengkapi.
Pertama, dalam perspektif teologis-religius, Muhammad dilihat dan
dipahami sebagai sosok nabi
sekaligus rasul terakhir dalam tatanan konsep keislaman. Hal ini
memposisikan Muhammad sebagai sosok manusia sakral yang
merupakan wakil Tuhan di dunia yang
bertugas membawa, menyampaikan, serta mengaplikasikan segala bentuk
pesan “suci” Tuhan kepada umat manusia secara universal.
Kedua, dalam perspektif sosial-politik, Muhammad dilihat dan
dipahami sebagai sosok politikus andal.
Sosok individu Muhammad yang identik dengan sosok pemimpin yang
adil, egaliter, toleran, humanis, serta non-diskriminatif
dan hegemonik, yang kemudian mampu membawa
tatanan masyarakat sosial Arab kala itu menuju suatu tatanan
masyarakat sosial yang sejahtera dan tentram.
Tentu, sudah saatnya bagi kita untuk mulai memahami dan
memperingati Maulid
secara lebih mendalam dan fundamental, sehingga kita tidak hanya
memahami dan memperingatinya
sebatas sebagai hari kelahiran sosok nabi dan rasul terakhir yang
sarat dengan serangkaian ritual-ritual
sakralistik-simbolik keislaman semata, namun menjadikannya sebagai kelahiran sosok pemimpin.
Karena bukan menjadi rahasia lagi bila kita sedang membutuhkan
sosok pemimpin bangsa yang
mampu merekonstruksikan suatu citra kepemimpinan dan masyarakat
sosial yang ideal, egaliter, toleran, humanis dan
nondiskriminatif, sebagaimana dilakukan
Muhammad untuk seluruh umat manusia.
Kontekstualisasi peringatan Maulid tidak lagi dipahami dari
perspektif keislaman saja, melainkan harus
dipahami dari berbagai perspektif yang menyangkut segala persoalan.
Misal, politik, budaya, ekonomi, maupun agama.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, para hadirin yang saya cintai.
Nabi Muhammad dilahirkan ke dunia.
Datangnya membawa tugas.
Perginya meninggalkan bekas.
Datangnya membawa tugas yang diselesaikan dalam 23 tahun.
Datangnya ke dunia diperintah untuk memperbaiki budi pekerti
(sholihah Akhlak)
supaya ummat ini menjadi umat yang sopan santun (makarimal akhlak)
Sopan terhadap siapa?
Sopan terhadap Alloh yang telah menciptakan kita
Sopan terhadap Rosululloh
Sopan terhadap agama yan
g kita peluk masing-masing
Sopan terhadap diri sendiri
Sopan terhadap orangtua
Sopan terhadap masyarakat
Sopan terhadap ibu pertiwi
Sopan terhadap negara.
Sopan terhadap Alloh.
Contohnya bagaimana kita sebelum makan berdoa dulu
bismillahirrohmanirrohim.
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah adalah
bentuk kesopanan
kita kepada Alloh.
Dalam pembukaan UUD 1945 menyebutkan atas berkat Rohmat Alloh Yang
Maha
Kuasa merupakan bentuk kesopanan para pendahulu kita kepada Alloh.
Mereka
mengakui bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia ini bukan karena
pemberian sekutu,
bukan pemberian Jepang dan bukan semata-mata karena perjuangan
bangsa Indonesia
melawan Belanda. Tapi adalah karena Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa.
Ada orang yang
berpidato menyebutkan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah
karena hasil perjuangan rakyat Indonesia adalah bentuk
ketidak-sopanan kepada Alloh.
Sopan terhadap Rosululloh,
Rosul merupakan pintu gerbang agung agama. Maka sudah sepantasnya
kita sopan
kepada Rosululloh
agama, itu adalah kebohongan. Itu adalah atas nama hawa nafsu
mereka sendiri
Semua agama mengajarkan kesucian. Karena itu kita harus sopan
dalam beragama
Demonstrasi dengan meneriakkan Allohu Akbar sambil saling memukul,
menghancurkan, itu juga bentuk ketidak-sopanan kepada agama.
Kalimat Allohu Akbar
adalah kalimat pertama yang dibaca pada waktu sholat, bagaimana
bisa digunakan
untuk sesuatu seperti itu. Kalau tidak setuju dengan sesuatu, maka
lakukan dengan
sopan pula. Penggusuran dengan meneriakkan Allohu Akbar, ini kan pelecehan
terhadap agama. Ketidaksopanan kepada agama. Mereka tidak
menyadari bahwa
dengan berbuat seperti itu mereka telah berbuat tidak sopan kepada
agama.
Sopan kepada diri sendiri
Bagaimana kita diperintah untuk menutup aurat adalah bentuk
kesopanan pada diri
sendiri dan sebaik-baik pakaian adalah pakaian takwa. Tujuh lapis
langit dan tujuh lapis
bumi yang diciptakan Alloh ini ibarat sepet (kulit sabut kelapa-red.), sedangkan
berliannya adalah manusia, maka sopanlah kepada diri sendiri.
Sopan kepada orang tua
Jangan sampai kita durhaka seperti kisah bagaimana seorang dari
desa yang berhasil
menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana dan orang yang
sukses. Tapi ketika
orang tuanya datang tidak dihormati malah diusir. Ketidak-relaan
orang tua
menyebabkan anak itu dan keluarganya diazab Alloh dengan
dihancurkan rumah dan
keluarganya. Padahal seharusnya si anak bangga dengan orang tuanya
yang tinggal di
desa tersebut karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi orang
yang sukses
dibandingkan dengan orang kota
yang belum tentu berhasil mendidik anaknya menjadi
orang yang sukses.
Sopan kepada masyarakat
Dalam kehidupan ini kita tidak bisa keluar dari masyarakat, maka
kita harus sopan
kepada masyarakat.
Sopan kepada ibu pertiwi
Hadis Cinta tanah air bagian dari iman adalah bentuk kesopanan kepada
ibu pertiwi.
Pendahulu kita memberikan lambang negara berbentuk Garuda
Pancasila
melambangkan jiwa yang besar. Namun yang terjadi sekarang jiwa
bangsa Indonesia
sedang sakit kronis dengan semakin berkurangnya rasa Cinta Tanah
Air
Di zaman sekarang ini globalisasi adalah sesuatu yang tidak bisa
dihindari. Namun tak
ada satu negara pun yang mau dilibas oleh negara lain.
Satu-satunya cara adalah
dengan menumbuhkan Cinta Tanah Air. Jepang, Korea
tidak sampai terlibas dalam era
globalisasi karena mereka mempunyai akar yang kuat dengan Cinta
Tanah Air.
Sedangkan pada siapa kita diajar untuk santun?
Kita diajar santun kepada anak-anak yatim
Kita diajar santun kepada para fakir miskin
Kita diajar santun kepada orang-orang yang teraniaya
Kita diajar santun kepada orang-orang yang terkena bencana.
Semoga uraian ini bermanfaat. Mohon maaf jika ada kata-kata yang
kurang berkenan.
Assalamu alaikum wr. wb.